Pantai Penimbangan Singaraja tempat Konservasi Penyu dan Terumbu Karang

 


Terwujudnya tempat wisata di Bali Utara yang sekarang ini telah cukup dikenal, salah satunya Pantai Penimbangan di Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, tidak lepas dari penataan yang dilakukan baik dari aparat dinas maupun masyarakat setempat.

Pantai penimbangan yang telah menjadi obyek wisata populer bagi masyarakat dari segala usia tidak hanya menawarkan keindahan wisata bahari dan kuliner, namun juga pengembangan lainnya yakni konservasi terumbu karang dan konservasi penyu. Untuk konservasi penyu yang telah dilaksanakan sejak tahun 2015, hingga tahun ini telah berhasil melepas kurang lebih 5000 tukik (bayi penyu).

Hal itu diungkapkan Kepala Desa Baktiseraga, I Gusti Putu Armada, pada acara dialog interaktif luar studio Radio Wisata dengan topik “Obyek Wisata Terumbu Karang Penyu di Pantai Penimbangan”, Kamis (31/10/2019).

Dalam perjalanannya menjadikan pesisir Pantai Penimbangan sebagai kawasan konservasi penyu, tidaklah mudah dan penuh tantangan. Oleh karena itu ungkap Gusti Putu Armada, dalam mewujudkannya, tentu perlu melibatkan semua komponen yang ada dan itu memerlukan waktu yang tidak singkat.

“Saya merasa bersyukur, karena proses komunikasi yang kami jalin empat tahun ini, cepat banget, awalnya kami tidak berpikir apa,” ucapnya. 

Objek wisata terumbu karang yang telah berkembang di daerahnya, khususnya di Pantai Penimbangan Desa Baktiseraga, kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Nyoman Sutrisna, tentu akan menjadi daya tarik bagi pengunjung.

“Untuk di Kecamatan Buleleng ini, ada 9 destinasi yang kita sudah SK-kan, yaitu peraturan bupati no 51 tahun 2017. Ada 86 destinasi, dimana Kecamatan Buleleng ada 9, diantaranya sekarang disini adalah destinasi yang ada di Buleleng khususnya di Pantai penimbangan,” jelasnya. 

Sementara itu Penyuluh Perikanan Kabupaten Buleleng, Niken, mengatakan, melihat dari potensi yang ada di Pantai Penimbangan, dalam kegiatan awal dilaksanakan oleh KUB (kelompok usaha bersama). Kedepan harapannya bagaimana agar kegiatan KUB ini dapat melebarkan sayap, tidak hanya pada tukik saja. Karena untuk bergerak di bidang konservasi memerlukan wadah tersendiri sesuai dari nomenklatur kelompok.

“Bagaimana kegiatan dari KUB ini dapat lebih melebarkan sayap, jadi tidak hanya dari tukik saja, karena memang wadah awalnya memang merupakan KUB. Sedangkan untuk bergerak di bidang konservasi, memerlukan wadah tersendiri sesuai dari nomenklatur kelompok yang ditetapkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan,” ungkapnya.

Radio Wisata yang digelar setiap tiga bulan sekali disiarkan langsung oleh Korwil VII meliputi RRI Denpasar, RRI Mataram dan RRI Singaraja. Radio Wisata di akhir Oktober 2019 ini menghadirkan empat narasumber, yakni Perbekel Desa Baktiseraga, I Gusti Putu Armada, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Ir Nyoman Sutrisna, MM, Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas Penimbangan Lestari, Gede Wiadnyana dan Penyuluh dari Perikanan Kabupaten Buleleng, Niken.


Komentar